AMD Phenom



Rabu, 17 Desember 2008

Lima tahun adalah waktu yang lama, apalagi untuk sebuah produk TI (teknologi informasi) yang siklusnya begitu cepat. Namun itulah waktu yang diperlukan AMD untuk beralih dari mikroarsitektur K8 yang digunakan prosesor AMD Athlon64/Athlon64 X2 ke mikroarsitektur K10 yang digunakan prosesor empat inti AMD, baik versi Opteron (untuk server) maupun Phenom (untuk desktop).

Waktu itu terasa semakin lama karena pada pada waktu bersamaan Intel bisa bangkit dari ketertinggalannya (yang tercermin dari Intel Pentium 4 generasi Prescott yang panas dan boros listrik) menjadi pemimpin melalui prosesor generasi Core 2 Duo maupun Core 2 Quad-nya. Bahkan Intel sudah memasuki fabrikasi 45nm yang memungkinkan mereka memperlebar jarak keunggulannya.

Karena itulah, kemunculan Phenom begitu ditunggu. Phenom diharapkan dapat menyaingi kedigjayaan Intel Core 2 Quad, sehingga tercipta kompetisi ketat seperti yang terjadi di 3 - 4 tahun yang lalu. Kompetisi yang ketat dan seru tidak cuma membuat perkembangan prosesor semakin menarik, tetapi juga menguntungkan konsumen karena bisa mendapatkan prosesor bagus dengan harga yang semakin terjangkau.

Phenom : Selayang Pandang

Sejak awal AMD merancang K10 sebagai mikroarsitektur untuk prosesor empat inti, dengan masing-masing inti bersifat mandiri. Ini berbeda dengan Intel yang membentuk prosesor empat inti dengan memasangkan sepasang prosesor dua inti.

Perbedaan utama prosesor terbaru AMD ini dengan seri pendahulunya selain pada arsitektur dan proses pembuatannya adalah jumlah transistor yang lebih banyak, serta tersedianya L3 cache yang berfungsi sebagai buffer atau media simpan sementara untuk seluruh core pada prosesor.

Seperti pada chipset AMD 7 series, dukungan untuk HyperTransport 3.0 1.8GHz juga sudah tersedia di Phenom. Seperti diketahui, pada HyperTransport 2.0 tersedia bandwidth sebesar 8GB/s, pada HyperTransport 3.0, bandwidth yang tersedia mencapai 20.8GB/s. Ini sangat bermanfaat untuk mengatasi bottleneck jika prosesor dipadankan pada chipset yang mendukung HyperTransport 3.0, dan menggunakan kartu grafis PCI Express x16 lebih dari satu buah.

Phenom adalah prosesor desktop pertama yang dibangun dengan mikroarsitektur K10. Berbeda dengan generasi K8 yang menggunakan nama-nama kota sebagai kode nama untuk prosesor (misalnya Manchester, Newcastle, Venice, Brisbane, dan lain-lain), prosesor generasi K10 menggunakan nama-nama bintang untuk kode namanya (stars core). Contohnya adalah Agena, Kuma, atau Sparta. Nah, kode nama tersebut juga dapat diketahui atau menjelaskan faktor penting dari sang prosesor.



Kalau tidak ada perubahan, prosesor generasi K10 nantinya akan terdiri dari prosesor dengan empat, tiga, dua, dan satu inti. Semua tentu ditargetkan kepada segmennya masing-masing. Berhubung banyaknya penamaan untuk prosesor, agar lebih memudahkan pengguna, yang penting diingat adalah seri prosesor tersebut, seri 9 untuk quad core, 8 untuk triple core, 6 untuk dual core, dan 1 untuk single core.

Anda bisa memasangkan prosesor Phenom ini pada motherboard bersocket AM2 pada umumnya, termasuk motherboard dengan chipset yang relatif lawas ataupun motherboard kelas value sekalipun karena umumnya motherboard tersebut masih mampu menampung prosesor dengan TDP 95 watt.

Masalah di TLB Erratum

Saat dirilis, generasi pertama prosesor berbasis K10 dari AMD ternyata memiliki bug yang dikenal dengan sebutan TLB erratum atau TLB bug. Permasalahan ada di logika translation lokaside buffer (TLB) dan L3 cache yang digunakan pada prosesor yang memiliki stepping B2. Hal ini bisa mengakibatkan korupsi data, dan komputer menjadi hang. Ini khususnya ketika sistem sedang menjalankan virtualisasi dan keempat core prosesor sedang dalam kondisi load tinggi.

Meskipun untuk pengguna desktop hal ini relatif akan jarang terjadi, AMD telah memberikan solusinya melalui perbaikan via BIOS motherboard. Dengan menggunakan BIOS yang sudah menyertakan tambalan, bug tersebut dapat teratasi. Namun ada penurunan kinerja prosesor 10% - 20%.

Pada Februari 2008 AMD mulai menghadirkan prosesor Phenom dengan stepping B3 yang sudah bebas dari bug TLB. Silakan gunakan prosesor yang dirilis setelah bulan Februari untuk lebih nyaman. Caranya adalah melihat seri yang tertera pada heatspreader prosesor. Contohnya, pada prosesor yang kami gunakan tertera kode 0736EPB.

Kode yang perlu diperhatikan adalah 0736 yang menandakan prosesor tersebut diproduksi pada tahun 2007 minggu ke 36 atau sekitar bulan September. Menggunakan software seperti CPU-Z versi terbaru dapat dikenali dengan baik informasi lebih lanjut mengenai prosesor yang kita gunakan.

Jika nanti Anda bermaksud untuk memiliki prosesor Phenom yang sudah bebas dari bug tersebut, pilih versi yang memiliki kode 0809xxx ke atas pada batch code-nya.

AMD atau Intel ?

Jika Anda ingin membangun PC berbasis AMD, berikut sedikit rekomendasi dari kami. Jika sudah menggunakan prosesor dua inti AMD seperti Athlon64 X2 6400+, dan Anda belum benar-benar memanfaatkan secara penuh potensi prosesor yang tersedia, tak perlu beralih ke prosesor empat inti. Bila masih menggunakan prosesor X2 seri 5000+ atau ke bawah, upgrade prosesor ke Phenom mungkin bisa bermanfaat. Namun jika ingin membangun PC berbasis Phenom, ada baiknya menunggu versi Phenom dengan stepping B3.

Namun jika ingin membangun PC berkinerja tinggi, pilihan terbaik tetap prosesor Intel. Jajaran prosesor kelas atasnya seperti Core 2 Extreme Q9700 relatif tidak tergoyahkan sebagai prosesor desktop terbaik saat ini. Prosesor kelas menengah seperti E6650 atau E6850 juga tetap menjadi pilihan atraktif dibandingkan jajaran prosesor AMD Phenom. Satu catatan penting lain, Intel telah siap menggelontorkan pasar dengan prosesor berbasis 45nm — tipe dua dan empat inti — yang dijanjikan akan menghasilkan kinerja lebih tinggi dan lebih hemat energi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar