HD Anaconda



Jum'at, 30 April 2009

Soal modifikasi moge, Bimo, yang identik dengan Harley-Davidson sebagai subyek karyanya, boleh dibilang jagonya. "Sekarang ingin menampilkan sesuatu yang baru," bilang punggawa Bimo Custom Bikes (BCB) dari Jl Pangeran Antasari No 38B, Jakarta Selatan.
Selain itu, Bimo menciptakan motor ini untuk memenuhi keinginan kliennya dari Bali. Pemilik motor, katanya, ingin punya modifikasi yang ekstraordinari. "Kalau bisa yang mengejutkan dan lain dari biasanya," ucap Pak Haji menirukan omongan owner motor.

Untuk memenuhi kliennya, Bimo coba mencontoh sasis kurva dari Wild West Frame (WWF) asal Texas, Amerika. Jadi, kerangka yang dibikinnya model melengkung, tapi tidak rigid. Lantas, konsep sasis kurva dengan sistem softail di belakang yang di atasnya ditulis ANACONDA dikirim. Untungnya, pihak WWF menerima tantangan Bimo.

Setelah sampai di Jakarta, kerangka mengalami beberapa revisi. Posisi tempat duduk terlalu ke bawah dan sulit untuk membongkar shock tengah yang ngumpet di back-bone. Setelah sadel dinaikkan beberapa sentimeter, posisi rider lumayan nyaman.

Pada bagian depan, BCB memilih rake 42 derajat di komstir dan tambahan 5 derajat di triple three. Agar ergonominya lumayan jinak, setang didesain mendekati jangkauan.

Selain tampilan yang ekstrem, sisi menonjol lainnya ada pada sistem inner throttle. Nyaris tak ada kabel yang kelihatan karena hampir seluruhnya masuk ke sasis. Termasuk aki yang ngumpet di kolong dan shock Ohlins di dalam back-bone.

Harmonisasi juga jadi perhatian Bimo. Seperti rancangan setang, bagian itu disamakan dengan lengkungan back-bone yang merangkap tangki. Termasuk desain lengan ayun, bagian belakang mengikuti Anaconda yang menjadi titik perhatian. Knalpot menyesuaikan termasuk corong karbu di dalam back-bone.

Tak cuma itu, pilihan velg juga tepat. Buatan Extreme Motorsport USA dengan tampilan 3D (tiga dimensi) menambah elegan tampilan. Lantas, apa nama motor ini?

Dari mesin, jelas Harley-Davidson. Lebih tepat kalau dinamai ANACONDA.

M Plus

Read More......

Mio Retro Klasik



Jum'at, 30 April 2009

Modifikasi skubek tentu tidak bergeser dari aliran low rider. Ceper, sumbu roda melar puluhan sentimeter dan roda pakai velg mobil. Sementara itu, Muhammad Sidik justru keluar dari pakem. Yamaha Mio buatan 2007 miliknya justru diubah bentuknya jadi model klasik.

Perombakan bodi dilakukan dengan memakai bodi Fino. Padahal, trennya sendiri sudah muncul 2007. Namun, Sidik tidak peduli dengan teriakan orang. Toh, motor itu punya dia. Ia malah menambah variasi yang mendukung keklasikan motor.

Untuk menyulap bodi Mio diganti Fino, Sidik harus merogoh kocek sekitar Rp 6 juta. Saat pemasangan, kerangka Mio harus sedikit diubah. Lantaran bodi Fino memberi kesan klasik, berbagai barang berbau lawas pun menempel di bodi.

Tengok batang knalpot, diambil dari Honda CB100 yang ditemukan Sidik di Kebun Jeruk III. Begitu dipasang, tampilannya oke punya dan tidak memengaruhi performa mesin yang masih standar.

Karena klasik, pada bagian belakang dan depan dikasih rak. "Kalau yang depan murni desain sendiri. Pakai stainless steel 2 mm," bilang Sidik. Adapun rak belakang meniru variasi yang kerap dipakai komunitas Vespa. "Klasik dan cocok sama bodi baru yang rada gendut kayak bodi Vespa," lanjut pengantin baru itu.

Tampilan klasik lainnya tampak pada model nomor polisi. Bukannya melintang, melainkan sejajar dengan sepatbor. Kemudian, bagian depan dipasangi windshield. Uniknya, jika dulu ukurannya besar, di sini Sidik pakai ukuran kecil dan malah terlihat seperti visor. "Ingin tampil beda. Jadi dengan visor seakan klasik, tapi sporty," ungkapnya.Ukuran dan desain harus disesuaikan dengan bentuk bodi yang agak membulat itu.


Desain jok pun dibuat bergaya klasik "Harus gaya klasik juga, bikin lebar sebab, selain keren, nyaman di pantat," papar Sidik sambil tersenyum.

M Plus

Read More......

White Mio Lowrider



Jum'at, 30 April 2009

Bisa ditebak hasilnya kalau anak berusia 11 tahun punya motor dan minta dimodifikasi. Seperti yang terjadi pada Al Ghazy Nicola Bahsar. Murid kelas V SD ini "merengek" ke bokapnya (orangtua) minta dicarikan modifikator karena ingin mengubah tampilan motornya.

Sang ayah, Agus, memercayakan Tauco Custom (TC) untuk memodifikasi Yamaha Mio 2008 milik anaknya. "Kebetulan dekat dengan rumah kami yang di Cilandak," pertimbangan Agus.

Lantaran yang minta anak kecil, Topo Goedel Atmojo, juragan TC, tak ingin melakukan perubahan ekstrem. Konsepnya, lowrider yang enak dilihat. Maka, langkah pertamanya memundurkan roda belakang 10 cm.

Bodi tak banyak yang disentuh, kecuali lampu depan. Standarnya diganti dengan Yamaha Fino yang bulat dan lucu. Penggantian ini mau tak mau harus membobok cover bodi depan. "Kali ini enggak pakai pelat, hanya solder plastik antara bodi asli Mio dengan bawaan Fino," jelas Topo. Lalu, sambungan ditutupi dengan dempul.

Bagian belakang juga enggak ada yang ekstrem, kecuali knalpot hasil desain TC. Mulai dari leher sampai bagian tengah muffler ditutup cover berbahan pelat galvanis. "Murni karya kami. Sekalian bisa jadi pelindung panas lho," komentar Topo. Cover itu dikasih aksen lubang-lubang kecil untuk memperlihatkan detail sempurna.

Sokbreker belakang standar diapkir dan masuklah punya Honda Grand. Pengganti itu terpilih karena memiliki beberapa keunggulan. Selain bentuknya yang krom, "Batang yang besar cukup menarik. Dari segi harga jauh lebih murah," beber Topo.

Kemudian, pada ujung jok belakang dikasih sissy bar yang desainnya lumayan unik. "Karena enggak mau sissy bar yang tinggi, maka dibuat pendek dengan model mahkota," belanya.

Ghazy pun sangat senang melihat motornya yang udah berubah tampilan. Ya, Yamaha Mio itu hanya sebatas dipandang saja karena usianya masih 11 tahun dan belum punya SIM.

M Plus

Read More......